oleh

Florencia Lolita Wibisono Pramugari yang Sebentar Lagi Menikah Jadi Korban Pesawat ATR 42-500

Suarapolitika.com- Di antara kabar jatuhnya pesawat dan daftar nama dalam manifes, ada satu kisah yang paling sunyi namun paling melukai: kisah cinta yang hampir sampai ke pelaminan, lalu terhenti di udara.

Florencia Lolita Wibisono disapa Olen bagi keluarga dan orang-orang terdekat bukan hanya seorang pramugari Indonesia Air Transport yang bertugas di penerbangan ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar.

Ia adalah seorang perempuan yang sedang menata masa depan, menabung harap, dan menghitung hari menuju pernikahan. Hari bahagia itu belum sempat diumumkan ke banyak orang, namun sudah hidup dalam doa keluarga, dalam rencana-rencana kecil, dan dalam cinta yang diyakini akan segera disempurnakan.

Namun Sabtu (17/1/2026), langit justru menjadi saksi putusnya semua rencana. Pesawat yang ditumpanginya dilaporkan jatuh di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep. Sejak saat itu, cinta Olen tak lagi berjalan menuju pelaminan, melainkan menggantung di antara kabar, doa, dan penantian yang menyiksa.

Olen berdarah Manado. Ibunya dari Minahasa, Sulawesi Utara. Dari tanah itulah ia tumbuh, membawa nilai keluarga dan mimpi sederhana: bekerja dengan baik, membahagiakan orang tua, lalu menikah dengan orang yang dicintainya.

Di balik seragam pramugari dan senyum profesionalnya, ia menyimpan harapan tentang kehidupan setelah tak lagi sering berpamitan karena tugas.

Sejak kabar nahas itu datang, rumah keluarga berubah menjadi ruang duka yang belum berani menangis sepenuhnya. Tangis ditahan, seolah air mata baru boleh jatuh jika kepastian telah datang. Yang paling berat adalah menyebut kata “menikah”—sebab kata itu kini terdengar seperti luka. Sebuah kebahagiaan yang sudah di depan mata, namun tak pernah benar-benar sampai.

Salah satu kerabat korban, Juwita, mengatakan keluarga bersiap menuju Makassar. “Hari ini keluarga persiapan ke Makassar, diperkirakan tiba siang atau sore di Bandara Sultan Hasanuddin,” ujarnya, Minggu (18/1/2026).

Mereka berangkat membawa harapan yang tersisa, juga ketakutan yang tak terucap. Bagi keluarga, perjalanan itu bukan sekadar menyusul informasi, melainkan menyusul cinta yang belum sempat disatukan oleh janji suci.

Tak ada yang lebih tragis dari cinta yang tak sempat diresmikan. Gaun yang mungkin telah dibayangkan, janji setia yang belum terucap, dan masa depan yang sudah direncanakan bersama semuanya kini terhenti di satu titik yang sama: menunggu kabar.

Cinta Olen kini bukan lagi tentang pertemuan, melainkan tentang kehilangan yang bahkan belum berwujud kepastian.

Di tengah upaya pencarian yang terus dilakukan, keluarga hanya bisa memeluk doa. Sebab bagi mereka, Florencia bukan sekadar korban dalam sebuah tragedi penerbangan. Ia adalah seorang perempuan yang hampir menjadi istri. Cinta yang hampir sampai ke pelaminan, namun lebih dulu terbang, dan tak pernah benar-benar pulang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *