Morowali Utara — Kondisi SDN 4 Kolonodale kembali membuka ruang pertanyaan serius tentang perhatian pemerintah terhadap sarana pendidikan dasar di Kabupaten Morowali Utara, khususnya di bawah kepemimpinan Wakil Bupati Djira, K, yang telah menjabat selama dua periode.
Ironisnya, sekolah tersebut berada di pusat Ibukota Kabupaten Morowali Utara. Namun, pada Jumat, 14 Agustus 2026, ketika hujan turun, sejumlah titik di sekolah harus menggunakan ember dan loyang untuk menampung air yang masuk melalui bagian bangunan yang mengalami kebocoran.
Kondisi ini memperkuat sorotan publik terhadap kinerja pemerintah daerah, terutama Wakil Bupati Djira, K, yang dalam dua periode kepemimpinannya dinilai belum mampu menata sektor pendidikan secara optimal di wilayah ibu kota Kolonodale. Padahal, dengan latar belakang yang dikenal dekat dengan dunia pendidikan, ekspektasi masyarakat terhadap perbaikan infrastruktur sekolah justru semakin tinggi.
Kondisi plafon yang memprihatinkan juga menjadi persoalan tersendiri. Situasi tersebut tentu tidak ideal bagi siswa dan guru yang setiap hari menjalankan aktivitas belajar mengajar.
Yang lebih memprihatinkan, persoalan tersebut disebut bukan baru terjadi. Menurut sumber media ini, pihak sekolah telah mengajukan bantuan melalui Dapodik selama empat tahun berturut-turut, namun hingga kini belum mendapatkan bantuan.
“Sudah empat tahun berturut-turut mengajukan bantuan lewat Dapodik, tetapi belum pernah mendapat bantuan,” ujar sumber tersebut, Minggu (16/8/2026).
Kondisi ini semakin menegaskan penilaian sebagian publik bahwa dalam dua periode kepemimpinan Wakil Bupati Djira, K, penataan pendidikan di wilayah ibu kota Kolonodale belum menunjukkan hasil yang signifikan, terutama pada aspek fasilitas dasar yang seharusnya menjadi prioritas utama.
Dengan pengalaman tersebut, publik tentu berharap sektor pendidikan, termasuk persoalan infrastruktur sekolah, mendapatkan perhatian yang serius dan terukur, bukan sekadar program di atas kertas.
Sebab, membangun pendidikan tidak hanya berbicara tentang program peningkatan prestasi siswa, beasiswa, bantuan pendidikan, maupun kualitas tenaga pendidik. Ada hal paling mendasar yang tidak boleh dilupakan: tempat anak-anak belajar harus aman, nyaman dan layak.
Program Morut Cerdas maupun semangat Berani Cerdas di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah akan sulit mencapai hasil maksimal apabila masih terdapat ruang kelas yang ketika hujan turun harus menyediakan ember dan loyang untuk menampung air.
Karena itu, kondisi SDN 4 Kolonodale semestinya menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah, sekaligus catatan evaluasi terhadap kepemimpinan Wakil Bupati Djira, K, dalam dua periode jabatannya.
Sekolah yang berada di jantung ibu kota kabupaten seharusnya menjadi etalase pelayanan pendidikan. Bukan justru memperlihatkan bahwa masih ada fasilitas pendidikan dasar yang luput dari penanganan serius.
Publik tentu tidak sedang mempertanyakan latar belakang atau pengalaman seorang pemimpin. Justru karena Wakil Bupati Morowali Utara memiliki pengalaman di bidang pendidikan, ekspektasi masyarakat terhadap pembenahan sektor tersebut menjadi semakin besar—dan kegagalan memenuhi harapan itu kini menjadi sorotan.
Jika seorang pemimpin berlatar pendidikan memimpin daerah selama dua periode, maka masyarakat tentu berharap persoalan pendidikan bukan hanya dipahami secara teori, tetapi juga terlihat nyata dalam kebijakan dan pembenahan fasilitas di lapangan.
SDN 4 Kolonodale akhirnya menjadi sebuah pertanyaan sederhana namun penting: di tengah dua periode kepemimpinan Wakil Bupati Djira, K, apakah sekolah-sekolah dasar di pusat ibu kota sudah benar-benar mendapatkan perhatian yang layak?
Sebab, mencerdaskan anak bangsa bukan hanya memastikan mereka mendapatkan pendidikan. Tetapi juga memastikan mereka memiliki ruang belajar yang tidak bocor ketika hujan, plafon yang aman, dan lingkungan sekolah yang membuat mereka merasa nyaman untuk belajar dan meraih masa depan.







Komentar