Meneladani Gaya Politik Warda Dg Mamala
Penulis: Om Hendly
Sosok Warda Dg Mamala bukan hanya dikenal sebagai politisi senior empat periode di DPRD Morowali Utara, tetapi juga sebagai figur yang memberi warna berbeda dalam perpolitikan daerah. Menjabat sebagai Ketua DPRD Morowali Utara sekaligus Ketua DPD II Partai Golkar Morowali Utara, Warda menjadi salah satu politisi dengan masa pengabdian terlama di lembaga legislatif setempat.
Dalam dunia politik, Partai Golkar memiliki banyak kader yang piawai berbicara, bernegosiasi, dan memainkan strategi. Namun, tidak semuanya memiliki karakter setangguh Warda. Ia dikenal tahan uji, tetap berdiri tegak bahkan ketika kesetiaannya diuji dan dikhianati. Di saat politisi lain mungkin memilih jalan pintas, Warda tetap lurus di jalur kuning dengan sikap rendah hati yang menjadi ciri khasnya.
Yang membuatnya semakin dihormati adalah komitmen sosialnya. Banyak politisi bicara soal kepedulian, tetapi tidak banyak yang benar-benar merasakan kepedihan masyarakat seperti yang dilakukan Warda. Dalam dinamika politik yang semakin keras dan penuh kepentingan elite, ia justru tampil sebagai wakil rakyat yang paling dekat dengan denyut kebutuhan warga.
Di berbagai kesempatan, Warda tidak ragu menggunakan dana pribadinya untuk membantu kegiatan masyarakat, mulai dari kegiatan kerakyatan, keagamaan, hingga program kesehatan. Tidak sedikit kegiatan sosial yang berjalan mulus karena ia turun tangan langsung.
Salah satu contoh kecil namun sangat berarti adalah ketika sebuah kegiatan kesehatan membutuhkan pengadaan buku posyandu senilai 20 juta rupiah. Tanpa menunggu anggaran pemerintah, tanpa formalitas yang berbelit, Warda langsung merogoh kocek pribadi demi memastikan pelayanan kesehatan anak dan ibu tetap berjalan. Baginya, membantu masyarakat bukan soal pencitraan, melainkan panggilan hati.
Kepedulian dan rasa cintanya pada daerah telah menjadi ciri utama kepemimpinannya. Sikap rendah hati, keteguhan prinsip, serta kesediaannya untuk hadir ketika rakyat membutuhkan menjadikannya teladan politikus daerah yang patut dicontoh. Dalam pandangan banyak warga, Warda bukan hanya pejabat, melainkan sosok pemimpin yang benar-benar hadir, melihat, dan merasakan apa yang rakyat rasakan.
Gaya politik seperti inilah yang membuatnya bertahan hingga empat periode, bukan karena kekuasaan, tetapi karena kepercayaan. Dalam dunia politik yang sering kali keras dan penuh intrik, kehadiran figur seperti Warda Dg Mamala menjadi pengingat bahwa politik seharusnya tentang pengabdian, bukan sekadar posisi.







Komentar