MORUT- Fenomena panen bebas sawit eks PT RAS bukan hanya membuat warga mendadak berpenghasilan tinggi, tetapi juga memicu lonjakan aktivitas transaksi keuangan di Desa Era. Sejumlah agen Brilink dikabarkan kewalahan melayani warga yang berlomba-lomba menarik, menyetor, hingga mengirim uang hasil panen.
Menurut sumber lapangan yang dihimpun media ini, volume transaksi harian melonjak tajam, bahkan disebutkan mencapai puluhan juta rupiah per agen setiap hari. Agen Brilink harus membuka layanan lebih lama dari biasanya karena antrean warga tidak pernah surut .
Situasi ini terjadi karena dua hal:
1. Pendapatan warga yang meningkat drastis. Banyak ibu-ibu yang sebelumnya punya utang mendadak mampu melunasi kewajiban mereka hanya dari hasil beberapa kali panen sawit.
2. Minimnya fasilitas perbankan formal.
Desa Era dan wilayah sekitarnya belum memiliki kantor bank, sehingga warga sangat bergantung pada agen Brilink sebagai pintu masuk utama transaksi keuangan.
Lonjakan transaksi ini mencerminkan besarnya perputaran uang di Desa Era selama masa panen bebas. Namun jika situasi tidak segera diatur, agen-agen Brilink dikhawatirkan akan terus kewalahan dan masyarakat kesulitan mengakses layanan keuangan dasar di tengah euforia “durian runtuh” sawit.
Situasi ini juga harus di perkuat dengan hadirnya pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk memastikan Kamtibmas terjaga. Sebab panen saling klaim ini bukan hanya warga lokal Era tapi dari luar. Sehingga sangat sensitif memicu gesekan. Dan transaksi keuangan yang besar membuat potensi bagi para pelaku kejahatan yang menyasar warga maupun penjaga Brilink.













Komentar