oleh

Catatan Pahit di Pucuk Kepemimpinan: Lebaran Tanpa Gaji di Era Delis–Djira

MORUT – Di balik gema takbir Idul Fitri 2026, terselip sebuah catatan pahit dalam perjalanan kepemimpinan daerah. Untuk pertama kalinya sejak Kabupaten Morowali Utara berdiri pada tahun 2013, perangkat desa harus merayakan lebaran tanpa menerima gaji selama satu triwulan.

Situasi ini menjadi sorotan tajam, karena terjadi di era kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Morowali Utara, Delis–Djira. Momentum hari raya yang seharusnya membawa kebahagiaan, justru berubah menjadi beban bagi banyak perangkat desa yang belum menerima haknya sejak Januari hingga Maret 2026.

Kondisi ini bukan sekadar keterlambatan administratif. Bagi para perangkat desa, ini adalah pukulan nyata di tengah meningkatnya kebutuhan jelang lebaran. Tradisi berbagi, memenuhi kebutuhan keluarga, hingga sekadar merayakan hari kemenangan, menjadi terasa berat tanpa adanya kepastian penghasilan.

Di tingkat desa, para kepala desa ikut merasakan dampaknya. Mereka berada di posisi sulit—menjadi penghubung antara harapan perangkat desa dan realitas yang belum berpihak.

“Seakan-akan saya selaku kades tidak bisa menampakkan senyum ke teman-teman perangkat desa kami,” ungkap salah satu kepala desa, Minggu (22/3).

Ia menyebut, sepanjang pengetahuannya, kejadian ini adalah yang pertama dalam sejarah Morowali Utara. Sebuah situasi yang sebelumnya tak pernah terjadi, kini menjadi kenyataan di usia ke-12 daerah tersebut.

“Baru tahun ini terjadi. Saya sangat merasakan penantian teman-teman perangkat desa yang berharap bisa gajian untuk kebutuhan lebaran kemarin,” tuturnya.

Lebaran yang seharusnya menjadi simbol kemenangan dan kebahagiaan, bagi sebagian perangkat desa di Morowali Utara justru terasa sunyi. Tawa yang biasanya hadir dalam kebersamaan, tergantikan oleh rasa cemas dan penantian.

Peristiwa ini pun menjadi catatan penting—bahwa di tengah perjalanan kepemimpinan, ada momen-momen yang akan terus diingat masyarakat. Bukan karena keberhasilan, tetapi karena luka yang ditinggalkan.

Kini, harapan para perangkat desa sederhana: hak mereka segera dibayarkan, dan kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang. Karena lebaran seharusnya menghadirkan senyum, bukan menyisakan beban.

Sumber foto: MCDD

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *