MAKKAH – Di balik lancarnya pelayanan jutaan tamu Allah pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, terdapat banyak kisah pengabdian yang jarang tersorot. Salah satunya datang dari seorang putra terbaik Sulawesi Tengah, IPTU Saparuddin, perwira Polri yang mengemban amanah sebagai petugas haji Indonesia di Tanah Suci.

Mantan Kapolsek Mori Atas, Polres Morowali Utara itu menuntaskan tugas mulianya dengan penuh dedikasi, melayani para dhuyufurrahman (Tamu Allah) sejak fase kedatangan hingga pemulangan jemaah.
Menjadi petugas haji bukan sekadar tugas Negara, tetapi juga panggilan pengabdian yang sarat nilai ibadah. Amanah tersebut diraih Saparuddin setelah melewati serangkaian seleksi ketat yang meliputi administrasi, pemeriksaan kesehatan, tes kompetensi berbasis komputer, hingga wawancara.
Setelah dinyatakan lulus, ia mengikuti pendidikan dan pelatihan intensif di Asrama Haji Pondok Gede bersama calon petugas lainnya. Pelatihan yang dibimbing instruktur dari unsur TNI, Polri, dan Kementerian Haji dan Umrah itu membentuk kesiapan fisik, mental, serta kemampuan pelayanan yang dibutuhkan di Arab Saudi.
Di Kota Suci Makkah, IPTU Saparuddin dipercaya sebagai Wakil Kepala Pos Terminal Ajyad. Ia bertanggung jawab mengoordinasikan operasional 140 armada Bus Shalawat yang melayani sekitar 22.262 jemaah haji Indonesia di wilayah Misfalah.
Tugas tersebut bukan perkara ringan. Setiap hari ia bersama tim harus memastikan ribuan jemaah dapat berangkat dan kembali dari Masjidil Haram dengan aman, nyaman, dan tertib di tengah padatnya arus manusia dari berbagai penjuru dunia.
“Bagi kami, melayani jemaah haji adalah bentuk ibadah dan pengabdian. Setiap jemaah harus mendapatkan pelayanan terbaik agar dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk,” ungkap IPTU Saparuddin. (21/6).
Tak hanya bertugas di terminal, ia juga terlibat dalam Operasi Armuzna, khususnya pada fase mabit di Muzdalifah hingga pergerakan jemaah menuju Mina. Berkat koordinasi yang baik, seluruh jemaah haji Indonesia berhasil didorong menuju Mina sebelum pukul 07.00 waktu Arab Saudi tanpa kendala berarti.
Kesuksesan itu menjadi bagian dari ikhtiar besar petugas haji Indonesia dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan jemaah selama menjalani rangkaian ibadah puncak.
IPTU Saparuddin dan tim juga memastikan seluruh jemaah dari sektor 7, 8, dan 9 wilayah Misfalah dapat diberangkatkan menuju Arafah dengan aman. Sebanyak 22.262 jemaah, termasuk lansia dan jemaah sakit, berhasil diberangkatkan hingga proses dinyatakan tuntas sebelum pukul 21.00 waktu Arab Saudi.
Di antara berbagai pengalaman yang dijalaninya, satu peristiwa yang paling berkesan adalah saat tim gabungan Bus Shalawat dari unsur TNI dan Polri berhasil menemukan seorang jemaah asal Palangkaraya yang sempat terpisah dari rombongannya selama satu hari penuh.
Setelah melalui pencarian dan koordinasi intensif, jemaah tersebut akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat dan kembali berkumpul bersama keluarganya. Momen haru itu menjadi salah satu bentuk nyata pelayanan kemanusiaan yang dilakukan petugas haji Indonesia di Tanah Suci.
Menariknya, di tengah berbagai tugas berat yang diemban, IPTU Saparuddin tetap memegang teguh prinsip keikhlasan. Ia memilih menolak berbagai bentuk imbalan dari jemaah yang ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan.
Baginya, senyum dan doa para jemaah sudah menjadi balasan yang sangat berharga.
Pengabdian Iptu Saparuddin menjadi bukti bahwa semangat melayani tidak mengenal batas ruang dan waktu. Dari Mori Atas hingga Makkah Al-Mukarramah, ia menunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab, menghadirkan wajah pelayanan Indonesia yang humanis, profesional, dan bernilai ibadah.
Di Tanah Suci, tempat jutaan umat Islam menunaikan rukun Islam kelima, jejak pengabdian itu menjadi amal kebaikan yang insya Allah akan terus mengalir sebagai pahala dan keberkahan.











Komentar