PANGKEP- Tak semua takdir datang dengan suara keras. Sebagian hadir diam-diam, melalui keputusan sederhana yang diambil dengan iman.

Nama Franky D Tanamal sempat tercatat dalam manifes penumpang pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).
Ia dijadwalkan ikut dalam penerbangan itu sebagai teknisi pesawat. Namun, langkahnya terhenti bukan oleh keraguan teknis, melainkan oleh panggilan hati untuk melayani Tuhan.
Franky memilih meminta izin kepada komandannya untuk tidak ikut terbang. Alasannya sederhana, namun penuh makna: ia telah berkomitmen melayani dalam ibadah gereja. Sebuah keputusan yang saat itu mungkin terlihat biasa, tetapi kemudian menjadi penentu hidup dan mati.
Kisah ini diungkap oleh sahabatnya, Rumoton Sitanggang, melalui akun Facebook Gemilang Jaya Ban. Dalam unggahannya, ia menuturkan rasa syukur mendalam karena Franky luput dari musibah besar yang merenggut banyak nyawa.
Menurut Rumoton, Franky juga memastikan bahwa secara teknis pesawat dalam kondisi layak terbang. Tak ada firasat buruk, tak ada tanda bahaya. Peristiwa itu, ditegaskannya, murni sebuah musibah.
Namun di balik tragedi tersebut, terselip pelajaran iman: ketika seseorang mendahulukan ibadah dan pelayanan, ada jalan Tuhan yang bekerja dengan cara yang tak terselami manusia.
“Puji Tuhan atas segala kemurahanNya , sobatku luput dr MUSIBAH ini (tdk ikut dlm penerbangan beliau izin ke komandannya krn ada pelayanan di greja ). kami sama sama melayani umat Tuhan utk beribadah pagi ini ( user) , itu lah cara Tuhan tdk terselami tq ..Tuhanku Engkau sangat baik,” tulis Rumoton.
“Kami memilih melayani umat Tuhan untuk beribadah pagi itu. Itulah cara Tuhan yang tidak terselami.”
Franky D Tanamal selamat, bukan karena menghindar dari tugas, melainkan karena setia pada panggilan imannya. Sebuah kisah tentang pilihan, keyakinan, dan rasa syukur—bahwa dalam diam, Tuhan menjaga dengan cara-Nya sendiri.













Komentar