Opini: Memilih Kepala Desa, Sederhana Tapi Penuh Makna
Memilih kepala desa sejatinya tidak serumit memilih anggota legislatif atau kepala daerah. Di tingkat desa, pertimbangan masyarakat sering kali lebih sederhana dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ibarat saat masih duduk di bangku sekolah dan memilih ketua kelas, seseorang dipilih bukan karena popularitas semata, melainkan karena dikenal pribadinya. Mereka memilih sosok yang dianggap mampu memimpin, bertanggung jawab, tegas, berwibawa, bijaksana, serta adil terhadap semua.
Seorang kepala desa juga diharapkan menjadi sosok yang mampu menyuarakan kepentingan seluruh warganya. Ia harus mudah diajak berdiskusi, terbuka menerima masukan, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan. Kedekatan inilah yang sering menjadi pertimbangan utama dibanding sekadar janji-janji politik.
Di desa-desa yang masyarakatnya terdiri dari berbagai latar belakang suku dan agama, faktor perbedaan justru tidak selalu menjadi penentu pilihan. Sebaliknya, keberagaman menjadi kekuatan yang selama ini dijaga melalui semangat persaudaraan dan toleransi.
Hal itu pernah terlihat pada Pilkades Ululaa, ketika Surdin Tedengki yang beragama Nasrani berhasil memperoleh kepercayaan masyarakat di desa yang mayoritas bahkan hampir seluruh penduduknya beragama Islam. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa masyarakat desa lebih mengutamakan kualitas figur dibanding identitas.
Pada akhirnya, masyarakat akan memberikan kepercayaan kepada sosok yang mereka kenal, yang mudah ditemui, mudah diajak berbicara, serta mampu merangkul semua kalangan. Sebab memilih kepala desa bukan hanya memilih seorang pemimpin administratif, tetapi juga memilih seseorang yang akan menjadi bagian dari keluarga besar desa, berjalan bersama masyarakat, mendengar setiap persoalan, dan membawa desa menuju masa depan yang lebih baik.







Komentar