NASIONAL- Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengumumkan enam proyek hilirisasi terbaru yang menjadi bagian dari strategi besar penguatan ekonomi nasional.
“Minimal enam proyek hilirisasi mungkin bisa sampai 11. Nilainya adalah kurang lebih US$ 6 miliar (setara Rp 101,05 triliun) dan kita akan menerima investasi besar-besaran dari luar, saya perkirakan cukup besar investasi yang akan masuk,” terang Prabowo dalam peresmian Kilang Minyak atau RDMP Balikpapan di Kalimantan Timur, dikutip Selasa (13/1/2026).
Dari enam proyek tersebut, Morowali, Sulawesi Tengah, kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kawasan strategis hilirisasi nasional.
Salah satu proyek yang disorot adalah pembangunan fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi di Morowali dengan nilai investasi mencapai US$ 100 juta atau setara sekitar Rp1,55 triliun. Proyek ini diharapkan mampu mendorong nilai tambah komoditas kelapa, memperkuat sektor agroindustri, serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.
Masuknya Morowali dalam daftar proyek hilirisasi terbaru ini memperkuat peran daerah tersebut yang selama ini dikenal sebagai pusat industri berbasis sumber daya alam, khususnya pertambangan dan pengolahan.
Kini, hilirisasi mulai merambah sektor pertanian dan perkebunan, menandai perluasan arah pembangunan industri di kawasan tersebut.
Sementara itu, proyek hilirisasi lainnya tersebar di sejumlah wilayah. Di Mempawah, Kalimantan Barat, pemerintah merencanakan pengembangan industri smelter aluminium dari alumina dengan nilai investasi US$ 2,4 miliar atau sekitar Rp37,2 triliun, serta fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) dari bauksit senilai US$ 890 juta atau sekitar Rp13,8 triliun.
Di sektor energi, fasilitas produksi bioavtur akan dibangun di Cilacap, Jawa Tengah, dengan nilai investasi US$ 1,1 miliar atau setara Rp17,05 triliun, sebagai bagian dari upaya transisi energi dan penguatan ketahanan energi nasional.
Selain itu, pemerintah juga merencanakan pembangunan fasilitas produksi bioetanol dengan nilai investasi US$ 80 juta atau sekitar Rp1,24 triliun, meski lokasi proyek ini belum diumumkan. Proyek lainnya adalah fasilitas budidaya unggas yang akan dibangun di berbagai daerah, dengan nilai investasi yang masih menunggu pengumuman resmi.
Presiden Prabowo menegaskan, proyek-proyek hilirisasi ini bukan sekadar investasi angka besar, tetapi diarahkan untuk menciptakan efek berganda bagi daerah, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memastikan sumber daya alam Indonesia memberikan manfaat maksimal bagi rakyat.













Komentar