PALU, — Prosesi adat Toraja mewarnai pengusungan jenazah Almarhum Silas Toding (Pa’windy) menuju Patane di Palolo, Desa Ranteleda. Tradisi tersebut berlangsung khidmat dan diikuti oleh keluarga besar serta warga setempat sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum. Selasa, 20 Januari 2026.
Puluhan warga tampak bahu-membahu mengusung peti jenazah berhiaskan ornamen khas Toraja. Prosesi dilakukan secara gotong royong, mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dan solidaritas dalam budaya Toraja.
Sejumlah pengusung terlihat berjalan tanpa alas kaki, sebagai simbol ketulusan dan penghormatan dalam mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan terakhir.
Sepanjang perjalanan menuju Patane, suasana duka berpadu dengan ketertiban prosesi adat. Keluarga dan masyarakat mengiringi langkah pengusungan dengan doa, menjaga kekhidmatan sesuai tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Prosesi adat ini bukan sekadar ritual pengantaran jenazah, tetapi juga menjadi wujud nyata pelestarian budaya Toraja di tengah kehidupan masyarakat Palolo. Kehadiran warga dari berbagai kalangan menunjukkan eratnya ikatan sosial dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang masih dijunjung tinggi.
Kepergian Almarhum Silas Toding (Pa’windy) meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat. Namun melalui prosesi adat Toraja tersebut, almarhum diantarkan dengan penuh martabat, kebersamaan, dan penghormatan terakhir dari orang-orang terdekatnya.











Komentar