MORUT- Sifat peduli terhadap sesama ternyata bukan hal baru bagi Muh. Fauzan Ari Nugraha, S.AP atau yang akrab disapa Fauzan Mamala. Jauh sebelum dikenal sebagai pengusaha muda dan pemilik PT. Mamala Muda Perkasa, jiwa kemanusiaannya telah tumbuh sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kisah itu diungkap langsung oleh sang ayah, Mukhlis Dg Mamala atau Haji Mus, anggota DPRD Morowali Utara tiga periode. Menurutnya, sejak kecil Fauzan telah menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap orang-orang di sekitarnya, bahkan tanpa sepengetahuan orang tuanya.
“Masih SMP, Ochan itu sering kasih beras yang ada di rumah kepada orang yang membutuhkan. Kalau dia bawa mobil ba ret pasir, uang hasilnya bukan dia pakai untuk dirinya sendiri, tetapi dia gunakan untuk makan bersama teman-temannya,” tutur Haji Mus, Jumat (29/5).
Bagi Haji Mus, apa yang dilakukan putranya saat itu bukan sekadar kebiasaan berbagi, melainkan cerminan karakter yang telah terbentuk sejak dini. Di usia yang masih sangat muda, Fauzan sudah memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang bisa diberikan kepada orang lain.
Kisah sederhana tersebut menjadi bukti bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan empati tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan, lingkungan, dan ketulusan hati untuk membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan.
Kini, ketika namanya dikenal luas melalui berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, banyak orang mungkin melihat sosok Fauzan Mamala sebagai pengusaha muda yang sukses. Namun, di balik itu semua, terdapat perjalanan panjang yang dimulai dari tindakan-tindakan kecil penuh makna sejak masa remaja.
Apa yang dilakukan Fauzan saat SMP menjadi pelajaran berharga bahwa kepedulian tidak mengenal usia. Ketika sebagian anak seusianya masih memikirkan kesenangan pribadi, ia justru memilih berbagi dengan orang lain dan mengajak teman-temannya menikmati kebersamaan.
Barangkali inilah yang dimaksud bahwa karakter seorang pemimpin tidak dibentuk saat ia berada di puncak, melainkan ketika ia masih berada di titik awal perjalanan hidupnya. Dan bagi Fauzan Mamala, jejak kemanusiaan itu telah terlihat sejak ia masih seorang pelajar.












Komentar