PALU- Eklesia Wirapratama Potaka, atau yang lebih akrab disapa Eky, adalah potret nyata tentang mimpi yang terus dijaga, meski hidup tak selalu mudah. Putra asli Mori asal Desa Sampalowo, Kecamatan Petasia Barat, Kabupaten Morowali Utara (Morut) ini kembali membuktikan kualitasnya dengan menjuarai lomba menyanyi solo pada ajang Harmoni Nusantara Imlek di Kabupaten Donggala, Minggu, 8 Februari 2026 lalu.
Kemenangan itu bukan sekadar trofi. Ia adalah buah dari perjalanan panjang, kerja keras, dan keteguhan hati seorang anak desa yang tak pernah berhenti percaya pada suaranya.
Di balik sorot lampu panggung dan tepuk tangan penonton, ada kisah perjuangan yang jarang tersorot. Eky adalah seorang anak yatim. Sejak sang ayah berpulang, ia yang merupakan anak sulung mengambil peran sebagai pengganti kepala keluarga. Tanggung jawab itu dipikulnya di usia muda, menjadi penopang bagi ibu dan dua adik perempuannya.
Di tengah kesibukannya bekerja di salah satu Bank Perkreditan Rakyat di Kota Palu, Eky tetap berjuang melanjutkan pendidikan kuliahnya, meski hingga kini belum merampungkan gelar sarjana. Namun, di balik itu, ia telah membantu dua adiknya menyelesaikan pendidikan hingga sarjana. Sebuah pengorbanan yang tak banyak diketahui publik.
Memasuki usia 34 tahun, hari-harinya diisi dengan rutinitas bekerja, mengambil job menyanyi, hingga mengikuti berbagai perlombaan. Baginya, bernyanyi bukan sekadar hobi, melainkan panggilan jiwa.
Bakat Eky sudah teruji. Ia pernah menjajal sejumlah ajang pencarian bakat nasional, mulai dari Indonesian Idol hingga X-Factor. Tahun 2019, usai mengikuti audisi Idol di Jakarta, ia juga mengikuti audisi online Voice of DAAI TV Jakarta dengan juri Ady MS Orchestra dan dinyatakan lolos ke babak final di Jakarta. Namun takdir berkata lain.
“Waktu itu saya sudah dinyatakan lolos final dan harus berangkat ke Jakarta, tapi tidak jadi karena ada kedukaan keluarga,” kenang Eky, Selasa (10/2).
Pada 2021, ia kembali dihubungi untuk mengikuti audisi spesial X-Factor secara online dengan mengirimkan dua video. Namun karena tidak direkam di studio, langkahnya harus terhenti. Di tahun yang sama, ia juga sempat ditawari kembali untuk mengikuti Indonesian Idol, tetapi usianya sudah melewati batas yang ditentukan.
Meski beberapa kesempatan belum berpihak, semangat Eky tak pernah redup. Kini, ia bersama sejumlah penyanyi di Kota Palu dan sekitarnya tengah menggarap rekaman lagu berbahasa Kaili yang akan segera dirilis. Lebih dari itu, Eky menyimpan tekad besar untuk terus membawa dan mempopulerkan lagu-lagu Mori, tanah kelahirannya yang ia cintai.
Baginya, bernyanyi bukan hanya tentang panggung dan kompetisi. Ini tentang identitas, tentang membawa nama kampung halaman, dan tentang membuktikan bahwa dari desa kecil di Mori, suara besar bisa lahir dan menggema.
Eky Potaka adalah bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia terus melangkah, menyanyikan harapan, dan menjaga nyala semangat, untuk dirinya, keluarganya, dan tanah Mori yang selalu ia banggakan.













Komentar