PANGKEP- Kabut pagi masih menyelimuti lereng Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026), saat seorang anggota Tim SAR berdiri terpaku menatap puing-puing pesawat ATR 42-500 yang berserakan di medan terjal. Keheningan pegunungan yang biasanya damai pagi itu berubah menjadi saksi bisu sebuah tragedi penerbangan.
Potongan badan pesawat tampak terhempas di lereng curam. Pintu darurat yang seharusnya menjadi jalan keselamatan ditemukan terlepas, sementara bagian ekor pesawat terlihat rusak parah, seakan menandai kerasnya benturan yang terjadi. Setiap serpihan logam yang tercecer membawa cerita pilu tentang detik-detik terakhir penerbangan tersebut.
Di tengah medan yang sulit dan cuaca pegunungan yang tak menentu, Tim SAR Gabungan bekerja tanpa lelah. Dengan langkah hati-hati dan wajah-wajah penuh duka, mereka berupaya mengevakuasi para korban, menyadari bahwa tugas ini bukan sekadar misi penyelamatan, tetapi juga pengabdian kemanusiaan bagi mereka yang telah berpulang.
Pesawat nahas itu diketahui mengangkut 11 orang, terdiri atas delapan kru dan tiga penumpang. Delapan awak yang bertugas menjalankan penerbangan—Kapten Andy Dahananto, First Officer Yudha Mahardika, Sukardi, Hariadi, Franky D. Tanamal, Junaidi, serta dua awak kabin Florencia Lolita dan Esther Aprilita S, adalah para profesional yang berangkat menjalankan tanggung jawab, tanpa pernah menyangka perjalanan itu akan menjadi yang terakhir.
Sementara itu, tiga penumpang bernama Deden, Ferry, dan Yoga turut menjadi bagian dari tragedi ini. Mereka berangkat dengan harapan, rencana, dan tujuan yang kini terhenti di lereng sunyi Bulusaraung.
Di balik nama-nama dalam manifest, ada keluarga yang menunggu kabar, ada doa yang tak putus dipanjatkan, dan ada duka mendalam yang menyelimuti banyak hati. Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan pesawat, tetapi kehilangan besar yang menyisakan luka bagi bangsa.











Komentar