PALU – Sedikitnya 99 petani kelapa sawit asal Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mengikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik Tahun 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku, Kementerian Pertanian RI, berlangsung selama lima hari bertempat di Hotel Aston, Kota Palu.
Pelatihan resmi dibuka pada Selasa (11/8/2026) pagi. Peserta terbagi dalam tiga angkatan. Yakni Angkatan 3 sebanyak 34 orang, Angkatan 4 sebanyak 34 orang, dan Angkatan 5 sebanyak 31 orang.
Kegiatan pelatihan dibuka oleh Kepala BBPP Batangkaluku, Dr. Ir. Jamaluddin Al Afgani. Sejumlah pihak terut hadir, antara lain Sekretaris Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, Dinas Pertanian Kabupaten Morowali, serta perwakilan dari Kementerian Pertanian RI.
Dalam sambutannya, Jamaluddin mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari BPBD dalam program pengembangan SDM Perkebunan tahun 2026. Tujuan pelatihan meningkatkan kemampuan petani dalam menyediakan pupuk alternatif untuk tanaman kelapa sawit.
“Pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik yang kita laksanakan saat ini yakni angkatan puncak, yaitu Angkatan 5,” kata Jamaluddin.
Menurutnya, keterampilan membuat pupuk organik diharapkan dapat membantu petani dalam meningkatkan produksi sekaligus menekan biaya pemupukan. Terlebih, kelapa sawit saat ini tidak termasuk komoditas yang mendapatkan subsidi pupuk dari pemerintah.
“Oleh karenanya, dengan adanya keterampilan yang bapak ibu miliki, bagaimana membuat pupuk organik yang baik untuk tanaman sawit di daerah asal,” kata Jamaluddin memotivasi.
Ia menegaskan, penggunaan pupuk organik bukan untuk menghilangkan keberadaan pupuk kimia. Namun sifatnya mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
“Paling tidak kita bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia sekitar 30 bahkan sampai 50 persen,” jelasnya.
Pengurangan penggunaan pupuk kimia, lanjutnya, akan berdampak terhadap efisiensi biaya dan peningkatan pendapatan petani. Pupuk organik memiliki keuntungan dari sisi ekonomi. Selain itu, bahan bakunya relatif mudah diperoleh di sekitar lingkungan petani.
“Proses pembuatannya juga sangat mudah dilakukan dan secara aplikasi juga sangat mudah dilaksanakan,” papar Kepala BBPP Batangkaluku tersebut.
Karena itu, ia berharap tidak ada lagi alasan bagi petani sawit untuk tidak mampu membuat pupuk organik secara mandiri.
Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan kompetensi. Salah satunya mampu membuat pupuk organik dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar.
Kemudian, secara khusus ia meminta peserta tidak pelit ilmu. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan, sebisa mungkin dapat disharing kepada petani sawit lainnya.
“Bapak ibu semua yang hadir dalam kegiatan ini, saat kembali ke tempatnya masing-masing, maka tanggung jawab utamanya adalah mengedukasi kembali teman-teman petani sawit lain. Karena mungkin mereka belum berkesempatan ikut kegiatan ini,” ujarnya.
Ia berharap, setelah lima hari mengikuti pelatihan, seluruh peserta benar-benar memiliki kemampuan membuat dan mengaplikasikan pupuk organik.
“Pastikan bapak ibu meninggalkan tempat pelatihan ini sudah tidak ada lagi beban. Jangan lagi ada yang tidak bisa membuat pupuk organik karena belum paham,” pesan Jamaluddin.
Ruang diskusi telah disiapkan selama pelatihan. Karena itu, peserta diminta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya. (*)










Komentar