oleh

Opini: Catatan Hati Nurani Seorang Jurnalis: Ketika Empati Tidak Hadir

Opini: Catatan Hati Nurani Seorang Jurnalis: Ketika Empati Tidak Hadir

Persoalan kematian seorang pasien pasca operasi amandel di RSUD Kolonodale, dalam catatan saya sebagai seorang jurnalis, adalah peristiwa yang sangat menyedihkan.

Saya tidak ingin masuk terlalu jauh pada perdebatan faktor medis, prosedur rumah sakit, ataupun hal-hal teknis lainnya. Itu adalah wilayah yang tentu memiliki mekanisme dan penilaian tersendiri.

Namun ada satu hal yang tidak membutuhkan analisis medis, tidak memerlukan rapat panjang, dan tidak memerlukan regulasi yang rumit. Hal itu adalah empati.

Kehilangan anggota keluarga bukanlah persoalan kecil bagi siapa pun. Duka adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Ia melampaui jabatan, aturan, bahkan pembelaan diri.

Dalam diri manusia, ada sesuatu yang membedakan kita dengan makhluk lainnya. Kita memiliki hati nurani.
Hati nurani itulah yang seharusnya berbicara ketika seseorang sedang berduka. Hati nurani pula yang seharusnya mendorong kita untuk hadir, sekadar mengetuk pintu rumah duka, menyampaikan belasungkawa, atau mengatakan satu kalimat sederhana: kami turut berduka.

Namun sepanjang duka yang dialami oleh keluarga korban, setidaknya dalam pengamatan saya, hal itu tidak terlihat dari pihak manajemen RSUD Kolonodale hadir di rumah duka.

Padahal sebagai institusi pelayanan publik, rumah sakit bukan hanya tempat pelayanan medis. Rumah sakit juga merupakan ruang kemanusiaan, tempat di mana harapan, kecemasan, dan kadang-kadang duka bertemu dalam waktu yang bersamaan.

Kehadiran pihak rumah sakit di rumah duka tentu tidak serta-merta menjawab semua pertanyaan. Kehadiran itu juga tidak serta-merta menghapus rasa kehilangan yang dialami keluarga.
Namun setidaknya, kehadiran itu menunjukkan bahwa kemanusiaan masih ada.

Bahwa pelayanan kesehatan bukan sekadar soal prosedur dan administrasi, tetapi juga tentang rasa.

Saya menulis catatan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Saya hanya ingin mengingatkan satu hal sederhana: dalam setiap institusi pelayanan publik, terutama yang berhubungan dengan nyawa manusia, hati nurani tidak boleh absen.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya menilai dari seberapa canggih alat yang dimiliki sebuah rumah sakit, tetapi juga dari seberapa besar rasa kemanusiaan yang dimiliki oleh orang-orang di dalamnya.

Dan dalam peristiwa ini, sebagai seorang jurnalis sekaligus sebagai sesama manusia, saya hanya bisa berharap bahwa ke depan, empati tidak lagi terlambat hadir.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *